Income Pasif, Atraktif dan Konsisten dari Strategi Investasi Sederhana

Partisipan Adikamaks yang saya kasihi, mungkin sudah banyak di antara anda yang sudah mendengar mengenai potensi investasi di pasar modal atau bursa saham. Namun ada satu pertanyaan yang sering bikin saya tersenyum : “Pak Hary, saham apa yang harganya bakal naik terus dan tidak akan pernah terkoreksi / turun?

wallstreet1

Tentu saja tidak akan pernah ada saham seperti itu, bahkan pada kenyataannya semua aset yang diperdagangkan di bursa, apapun itu selalu akan mengalami kenaikan harga maupun koreksi. Namun tahukah anda bahwa anda semua bisa turut menikmati keuntungan dari bursa saham tanpa perlu dipusingkan dengan segala tetek bengek analisa fundamental, analisa teknikal, stock screening, faktor ekonomi, politik dan seabrek analisa lainnya?

Sebelum mulai mari kita tetapkan tujuan investasi kita secara spesifik terlebih dahulu. Jika anda adalah seorang karyawan atau wiraswasta yang ingin khawatir akan pelemahan kurs Rupiah yang sedang terjadi akhir-akhir ini, dan oleh karenanya ingin memiliki investasi dalam mata uang USD dengan tingkat pengembalian jauh lebih tinggi dari suku bunga Bank.

Saat ini tingkat suku bunga Bank Indonesia adalah 6.5%, sementara suku bunga Federal Reserve (Bank Sentral AS) adalah 0.5%. Banyak orang berpendapat bahwa berinvestasi di Bursa Efek Indonesia menjanjikan tingkat keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan berinvestasi di Bursa Saham New York. Hal ini bisa dimaklumi karena sebagai negara berkembang, tingkat pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia rata-rata memang lebih tinggi dibandingkan Indeks S&P500 New York Stock Exchange. Namun sesungguhnya kita tidak bisa serta-merta membandingkan kinerja indeks kedua negara seperti itu. Ketika kita hendak memulai suatu usaha baru, kita tentu membandingkan potensi laba yang kita bisa peroleh terhadap suku bunga Bank. Karena kita tahu betul bahwa semua bisnis, semua usaha mengandung resiko, sehingga jika potensi laba yang dijanjikan tidak mampu melampaui suku bunga Bank Sentral, maka sesungguhnya bisnis tersebut tentunya tidak layak untuk dikerjakan (tidak feasible).

Itu sebabnya saya selalu menggunakan rumus “Kenaikan Indeks Saham / Suku Bunga Bank Sentral” sebagai acuan guna mengukur kinerja Bursa Saham suatu negara.

Dengan menggunakan rumusan di atas kita akan jauh lebih obyektif dalam mengukur potensi keuntungan yang bisa kita peroleh dari investasi kita di suatu bursa. Contoh : di tahun 2010 IHSG mengalami kenaikan sebesar 46%, atau sebesar 7 kali suku bunga Bank Indonesia saat itu ( 6.5% ). Jika kita hendak berinvestasi di Bursa Amerika dalam mata uang US Dollar maka tingkat pengembalian di atas 7 kali suku bunga acuan The Fed, yakni sebesar 7 x 0.5% = 3.5% per tahun sesungguhnya sudah terbilang cukup besar. Namun tentunya kita menghendaki tingkat pengembalian yang jauh di atas itu bukan?

Nah, mari kita rangkum tujuan investasi kita.

  1. Kita menginginkan investasi dalam US Dollar sebagai antisipasi atas pelemahan mata uang IDR kita,
  2. Tingkat pengembalian di atas 7 (tujuh) kali Suku Bunga Acuan The Fed,
  3. Resiko sangat kecil, dan tidak mungkin bangkrut,
  4. Disamping tingkat pengembalian yang diperoleh akibat kenaikan harga, juga bisa memberikan passive income berupa deviden,
  5. Relatif mudah dilakukan, serta tidak membutuhkan berbagai analisa yang njelimet.

Tujuan Investasi di atas dapat dengan mudah dicapai melalui satu produk investasi yakni SPY ETF. ETF yang merupakan singkatan dari Exchange Traded Fund, adalah suatu portfolio atau kumpulan asset tertentu yang diperdagangkan di Bursa, seperti layaknya suatu saham yang diperjual-belikan. SPY adalah symbol / kode saham untuk ETF S&P500, yakni Indeks Harga Saham Gabungan yang terdiri atas 500 perusahan terbesar di AS.

Secara umum berinvestasi pada saham-saham Perusahan besar atau Blue Chip Stock, memiliki tingkat resiko jauh lebih kecil dibandingkan berinvestasi pada saham Perusahan-perusahan kecil.

Ada beberapa keunggulan yang bias diperoleh dengan berinvestasi di SPY ETF :

  1. Berhubung investasi dilakukan pada 500 saham unggulan bursa AS, maka tidak mungkin investasi tersebut bangkrut. Sederhananya, untuk membuat investasi anda bangkrut, maka 500 perusahan terbesar di AS harus bangkrut secara serentak, dan itupun masih belum bangkrut sepenuhnya karena masih akan ada 500 perusahan lain yang menggantikan posisi 500 saham unggulan pertama tadi.
  2. Investasi di SPY ETF tidak membutuhkan stock screening. Ketika bursa saham mengalami penguatan, anda tidak perlu bingung memilih saham mana yang akan anda beli. Anda berinvestasi pada 500 saham unggulan AS yang tersebar di berbagai sektor industri.
  3. Indeks S&P500 di kalangan Fund Manager, seringkali juga disebut Benchmark Index. Hal ini disebabkan karena Indeks S&P500 selalu dijadikan titik acuan guna menentukan kinerja suatu reksadana / Mutual Fund bagus atau jelek. Jika anda berinvestasi pada suatu Reksadana berbasis US Dollar, di Bursa AS, maka investasi anda disebut memiliki kinerja baik, apabila Tingkat Pengembalian reksadana tersebut di atas tingkat kenaikan Indeks S&P500. Berdasarkan data, tiap tahun tidak lebih dari 15% reksadana yang berhasil mengalahkan indeks S&P500, dimana tiap tahun reksadana yang berhasil mengungguli indeks S&P500 tersebut selalu berubah. Dengan demikian, maka jika kita berinvestasi di SPY ETF, itu berarti investasi kita akan mengungguli 85% reksadana yang banyak beredar.
  4. SPY ETF anda akan membagikan Deviden tiap kuartal. SPY ETF adalah kumpulan dari 500 saham unggulan AS. Dengan berinvestasi di SPY ETF itu berarti kita sama saja dengan berinvestasi pada 500 saham unggulan tersebut. Jika salah satu perusahan membagikan deviden bagi pemegang sahamnya, maka kita juga akan memperoleh deviden tersebut.

Lantas bagaimana cara kita berinvestasi di SPY?

Prinsip utama dalam berinvestasi di SPY ETF adalah anda mesti memperlakukannya sebagai investasi jangka panjang atau long term investment. Saya teringat akan salah seorang peserta workshop Adikamaks Resources yang saya tangani. Metode yang digunakannya sederhana sekali. Ia memperlakukan SPY ETF sebagai tabungan hari tuanya. Untuk mempermudah supaya tidak lupa, dia menggunakan hari ulang tahunnya sebagai pengingat. Berhubung ulang tahunnya jatuh di bulan Maret, maka setiap hari kerja pertama di bulan Maret ia membeli SPY ETF sebanyak 10 unit. Sejak tahun 2006, tiap tahun ia membeli SPY sebanyak 10 unit.

Ia tidak melakukan analisa teknikal, tidak ada analisa fundamental, tidak ada analisa makro ekonomi, dan berbagai macam analisa yang biasa dilakukan investor professional. Cukup setiap tahun beli SPY ETF sebanyak 10 unit setiap awal Maret. Itu saja.

Nah mari kita lihat bagaimana hasil investasi yang dilakukannya.

Total investasi yang dilakukannya sejak tahun 2006 adalah sebesar : USD 10,067.7. Saat ini ia memiliki SPY ETF sebanyak 80 unit dengan harga rata-rata pembelian sebesar USD 125.85 per unit. Harga SPY ETF saat ini (9 November 2016) adalah 214.11.

spy

Dengan demikian saat ini investasinya tengah mengalami keuntungan sebesar  USD 214 – USD 125.85 = USD 88.26 per unit. Tingkat pengembalian sebesar 70.13%, atau rata-rata 7% per tahun.

Perlu diingat bahwa investasi di atas dilakukan dalam mata uang US Dollar. Dengan  tingkat suku bunga The Fed sebesar 0.5%, maka investasi SPY ETF di atas mengalami keuntungan sebesar 35 kali Suku Bunga Bank Sentral.

Luar Biasa bukan?



2 Komentar

Tinggalkan Balasan