IHSG Tetap Menghijau ditengah Stagnasi Ekonomi

Pada minggu lalu, IHSG masih cukup optimis dalam bursa perdagangan. IHSG tercatat menguat sebesar 1.3% dari area support yang terbentuk. Ada beberapa kekecewaan atas dibatalkanya investasi Arab ke bidang pariwisata di Indonesia. Selain itu dari data BI (Bank Indonesia) mencatat bahwa 173 perusahaan non-bank yang berisiko mengalami kerugian kurs lantaran belum melakukan lindung nilai (hedging) atas utang luar negerinya. Padahal, sesuai peraturan BI, perusahaan non-bank yang memiliki utang luar negeri wajib menerapkan prinsip kehati-hatian, di antaranya dengan melakukan hedging. Hedging bisa membuat debitur terhindar dari rugi selisih kurs.

Pada kondisi saat ini pergerakan IHSG lebih terpengaruh akan faktor external dari Negara Amerika Serikat, banyak isu yang beredar bahwa minggu depan saat pertemuan The Fed, akan ada kenaikan suku bunga acuan Amerika. Jika suku bunga AS dinaikan maka akan mendorong penarikan besar-besaran mata uang dolar dari bursa saham dalam negeri untuk berpindah ke Amerika.

Pada perdagangan minggu ini, harga IHSG diperdagangkan pada level harga 5403. Jarak harga dengan resistance terdekat sebesar 0.3%. Tren dari IHSG terlihat masih membentuk tren up. Jika kita mengamati indikator stochastik saat ini stochastik sedang mendekati level 80% hal ini menjadi indikasi buyer telah cukup mendominasi pasar. Level beli kembali yang baik berada pada kisaran harga 5359. Potensi kenaikan harga IHSG menuju kisaran harga 5483 atau batas resistance dua.

Analisis IHSG 8 Maret 2017 oleh Adikamaks

 



Tinggalkan Balasan