Selaraskah Kenaikan Rating Indonesia dengan Kenaikan Indeks S&P 500?

Sudah menjadi pembicaraan hangat diantara para analis dan ekonom mengapa Standard & Poor’s (S&P), selaku lembaga pemeringkat tingkat internasional belum juga mengakui Indonesia sebagai Investment Grade. Padahal lembaga pemeringkat internasional lainnya sudah memasukan Indonesia ke kategori tersebut. Namun kegelisahan itu sudah selesai. Beberapa hari belakangan ini Indonesia boleh berbangga hati. S&P akhirnya menaikkan rating Indonesia dari BB+ (positive outlook) menjadi BBB- (investment grade). Hal ini merupakan pengakuan global bahwa Indonesia adalah negara layak investasi. Citra Indonesia menjadi jauh lebih baik bagi investor-investor.

S&P menyimpulkan bahwa resiko-resiko fiskal Indonesia telah menurun. Pemerintah juga dianggap telah lebih realistis dalam menetapkan APBN dan mengelola anggaran. Hutang net Indonesia diprediksi akan berada di level moderat, yakni di bawah 30% dari produk domestic bruto (PDB). Namun terlepas dari kenaikan rating Indonesia ini, apakah hal ini dibarengi juga dengan kenaikan indeks utama S&P 500?

Grafik bulanan selama 10 tahun ke belakang menunjukan indeks S&P 500 ini masih tetap bergerak naik (up trend). Bahkan moving average 200 periode juga menguatkan hal tersebut. Grafik bergerak di atas MA 200 tersebut, yang mana merupakan sinyal kuat bahwa S&P 500 tetap bergerak naik dalam jangka panjang.

(Indeks S&P 500 jangka panjang masih berada di up trend yang kuat)

Namun grafik dengan timeframe harian selama 3 bulan tampak bahwa indeks mengalami break down. Bahkan muncul gap ke bawah. Candle merah pada 16 Mei 2017, ditutup pada harga 2,357 dengan gap down yang terkonfirmasi. Support di 2,383 behasil ditembus. Secara teoritis, gap down menjadi resistance baru yang cukup valid. Dengan posisi indeks di harga 2,380 maka memberikan risk-reward yang bagus untuk buka posisi trading dengan harapan akan terbentuk down trend.

(Indeks S&P 500 dalam jangka menengah terjadi gap down)

 



Tinggalkan Balasan