Pekan ini IHSG dan Bursa Dunia Kompak Melemah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah hingga 1,7 persen atau 114 poin ke level 6.411 pada hari ini, Senin (25/3), dari level penutupan akhir pekan lalu 6.525.

RTI Infokom mencatat investor membukukan transaksi sebesar Rp7,45 triliun dengan volume 12,17 miliar saham. Sementara, frekuensi saham hari ini tercatat 437,817 kali transaksi. Pada penutupan kali ini, 109 saham bergerak menguat, sedangkan 315 turun, dan 109 lainnya tidak bergerak.

Kemudian, seluruh indeks sektoral merosot, terutama sektor manufaktur yang menurut 2,23 persen. Sementara itu, RTI Infokom menunjukkan nilai tukar rupiah pada pukul 16.10 WIB melemah 0,11 persen ke level Rp14.180 per dolar AS. Sejak pagi hingga sore ini, rupiah bergerak dalam rentang Rp14.165-Rp14.230 per dolar AS.

IHSG diprediksi semakin merosot pada perdagangan pekan ini. Jatuhnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) akan memicu pelemahan pasar saham Indonesia.

Ketidakpastian ekonomi global kian terasa setelah yield obligasi dari negeri Paman Sam itu menyusut.

IHSG pun cenderung bergerak fluktuatif. Pergerakan indeks diperkirakan masih fluktuatif didorong oleh ketidakpastian terutama dari sentimen global setelah yield obligasi pemerintah AS menunjukkan tanda resesi.

Diketahui, IHSG ambruk pada perdagangan terakhirnya dengan pelemahan sebesar 1,74 persen dan mengakibatkan indeks kembali ke level 6.411. Beruntung, aksi jual asing tidak terlampau besar, sehingga mereka hanya tercatat jual bersih (net sell) di all market sebesar Rp81,88 miliar.

Kondisi ini beriringan dengan pelemahan bursa saham regional. Di Jepang misalnya, indeks Nikkei225 melemah 3,01 persen, indeks Hang Seng di Hong Kong 2,03 persen, dan indeks Kospi di Korea Selatan 1,92 persen. Sementara, koreksi yang terjadi di bursa saham Wall Street tak sebesar di Indonesia dan bursa regional.

Pada penutupan tadi malam, S&P500 terpantau turun 0,08 persen, Nasdaq Composite 0,07 persen, dan NYSE Composite 0,03 persen.

Setidaknya IHSG saat akan dibayangi aksi jual oleh pelaku pasar, baik dari dalam dan luar negeri. Sejumlah analis melihat peluang penguatan indeks. Tapi penguatan kemungkinan akan bersifat lebih terbatas.

IHSG kini sedang berada di area jenuh beli alias overbought. Hal ini biasanya terjadi usai indeks menguat signifikan beberapa waktu terakhir.

Untuk penguatan indeks hanya berlangsung untuk jangka pendek saja. Masalahnya, sentimen dari global masih mengganggu pergerakan pasar saham dalam negeri.



Tinggalkan Balasan